Tampilkan postingan dengan label INFO KOMUNITAS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INFO KOMUNITAS. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 September 2012

Gangnam Style dan Fenomenal Artis Korea



Apa itu gangnam style? Belakangan ini istilah gangnam style sering kita dengar di berbagai media, entah apa yang menyebabkan sehingga kata tersebut sangat heboh diperbincangkan. Lantas, tahukah anda apa sih arti dari Gangnam Style itu? Nah untuk menjawab rasa penasaran Anda, berikut kami berikan sedikit informasi mengenai pengertian dan asal usul atau sejarah Gangnam Style yang berhasil kami kutip dari berbagai sumber di internet.

"Gangnam Style" atau "Gaya Gangnam" adalah sebuah singel K-pop tahun 2012 oleh rapper Korea Selatan, Park Jae Sang, atau yang lebih dikenal dengan nama PSY. Gangnam Style secara umum mendapat pujian oleh para kritikus karena ritme humornya yang catchy serta gerakan tari Psy yang tidak biasa yang telah memperkenalkan K-pop pada banyak orang di seluruh dunia.




Gangnam Style adalah sebuah single lagu Kpop yang memiliki tarian khas yang diambil namanya dari sebuah daerah di Korea Selatan bernama Gangnam. Gangnam Style sendiri berarti gaya kehidupan orang-orang di daerah Gangnam. Daerah ini merupakan salah satu kawasan elit dan mewah di Seoul, Park Jae Sang atau yang lebih dikenal dengan PSY terinspirasi dari sini dan menyanyikan lagu Gangnam Style. pada lirik lagu nya (....oppa gangnam style!!!!) menggambarkan seorang pacar laki-laki yang kehidupannya mewah seperti orang-orang di Gangnam.


PSY Gangnam Style menandatangani kontrak dengan lebel di Amerika. yap, setelah berhasil memikat jutaan orang dengan video nya, PSY menandatangani kontrak dengan sebuah agensi di Amerika. Rencana nya Gangnam Style akan dikenalkan pada MTV Video Music Award. Dengan popularitas nya di Amerika, jelas PSY akan mudah untuk masuk ke industri musik di benua yang bertaburan bintang terkenal tersebut. Untuk waktu dekat pun Gangnam Style akan dirilis dalam versi Bahasa Inggris dan PSY akan berkolaborasi dengan penyanyi terkenal Justin Bieber.


sumber : jogang.com , koreanmaniac.com

Rabu, 09 September 2009

Bis Mania Community (BMC) Enggak Sembarang Bus Mania


Apa yang terlintas dipikiran Anda, ketika mendengar nama Bis Mania Community? Biasanya enggak jauh-jauh dari sekumpulan orang yang suka banget bepergian dengan mengguna moda transportasi darat umum ini. Kalau di luar negeri sana, perkumpulan macam ini sudah banyak banget. Karena, selain bus umum di sana memang bagus kendaraan serta pelayanannya, masyarakat luar negeri memang lebih suka bepergian dengan kendaraan umum.

Di Indonesia sendiri, khususnya di Jakarta, perkumpulan semacam ini masih sangat baru dikenal dan terbentuk. Sejauh ini, Bis Mania Community adalah satu-satunya organisasi tempat berkumpulnya para bus mania. “Awalnya, Bis Mania Community (BMC) hadir dari komunikasi dunia maya. Ketika itu ada seseorang yang membuat sebuah blog dan menuliskan pengalaman pahitnya naik bus. Karena banyak mendapat tanggapan, semakin hari semakin banyak pengunjung yang bergabung di blog tersebut. Singkatnya, dalam blog itu disepakati untuk membuat semacam milis bus mania, yang secara resmi launching pada 3 April 2007,” ujar Joko Puspito Murti, Ketua BMC.

Setelah berjalan 5 tahun, para anggota blog tersebut sepakat buat mendirikan organisasi, lengkap dengan struktur kepengurusannya. Akhirnya, pada tanggal 8 Maret 2008, Bis Mania Community (BMC) secara resmi berdiri. Adapun tanggal terbentuknya milis Bis Mania Community pada 3 April 2007, dijadikan sebagai tanggal kelahiran BMC.

Hingga saat ini, para pengurus BMC sedang mencari sebuah markas yang memadai, untuk dijadikan sebagi secretariat bagi wadah BMC. Malum saja, anggota BMC ini tersebar luas hingga ke pelosok tanah air. Total anggota komunitas ini di Indonesia sudah mencapai angka 700an orang. Dari jumlah tersebut, para anggota dikelompokkan dalam 2 bagian, anggota aktif dan anggota pasif. Anggota aktif adalah anggota yang memiliki id card resmi keanggotaan yang dikeluarkan oleh pengurus. Sedangkan anggota pasif sebaliknya, tidak memiliki id card. Tercatat hingga saat ini anggota aktif BMC berjumlah sekitar 250an orang. Untuk bergabung menjadi anggota aktif dan memperoleh id card , cukup mudah kok. “Tidak ada batasan. Siapa pun bisa mendaftar menjadi anggota. Dengan membayar biaya pembuatan id card beserta ongkos kirimnya sebesar Rp. 25.000, ditambah dengan iuran keanggotan Rp. 50.000/tahun, seseorang sudah dapat menjadi anggota resmi BMC,” jelas Ithok, panggilan akrab sang ketua.

Dari sekian anggota Bis Mania ber-id, korwil Jakarta selatan adalah penyumbangkan anggota Bus Mania terbanyak. Yakni sebesar 67 orang, dari 250 anggotanya. Dengan tidak mengesampingkan korwil lainnya, korwil Jakarta selatan diranggap korwil yang paling aktif dalam kegiatan yang diselenggarakan. “Ide-ide banyak keluar dari korwil ini (Jakarta Selatan), tak jarang ide-ide dari mereka (Jakarta Selatan) yang kita gunakan dalam mengkonsep suatu kegiatan,” ujar.

Yang menarik, mereka yang bergabung di komunitas ini bukan karena tidak memiliki kendaraan pribadi, atau tidak mampu membeli sekedar sebuah sepeda motor bekas. Kebanyakan dari mereka justru memiliki mobil-mobil pribadi, bukan lagi sekedar motor. Lebih mengejutkannya lagi, ada diantara para anggota komunitas ini ada professional-profesional muda, dengan kedudukan yang tinggi di perusahaannya masing-masing.

Ada seorang anggota komunitas ini yang berkedudukan sebagai manejer di sebuah perusahaan perbankan. Ia rela untuk turun dari sedan mewah nan nyaman miliknya, untuk berjalan menuju halte tempat ia biasa menunggu bus bersama anggota lainnya. Dari sana, ia menumpang bus untuk sampai di kantornya yang terletak di bilangan jalan protokol di Jakarta. Begitu juga ketika akan berpergian ke luar kota. Sang manajer lebih senang manaiki bus bersama anggota lain.

Para anggota komunitas ini yang berdomisili di kawasan Jakarta Selatan, biasanya berkumpul berpindah-pindah tempat terlebih dahulu, sebelum akhirnya berjalan bersama-sama ke tempat yang yang telah ditentukan sebagai tempat ajang berkumpul BMC se-Jabodetabek. Sejauh ini, sesuai dengan pengakuan sang ketua, korwil Jakarta Selatan dianggap berperan besar dalam perkembangan komunitas ini. Sering hadir dalam berbagai kegiatan BMC, serta banyak memberikan ide-ide kegiatan dan pengembangan komunitas. Enggak salah kalau anggota korwil Jakarta Selatan diakui sebagai dedengkot-dedengkot BMC.

Visi misi BMC
Sebagai sebuah komunitas yang berangkat menjadi organisasi, BMC bukan hanya sebagai sarana pemersatu penggemar bis di Indonesia yang mengagendakan touring atau kegiatan untuk bersenang-senang saja dalam setiap agendanya. Tetapi, perkumpulan pecinta bis ini berperan memberikan sumbangsih dan kepedulian untuk memajukan sarana transportasi sebagai penghubung antara satu daerah dengan daerah lain di Indonesia.

Konkretnya, Bis Mania Community berpotensi memberikan ide-ide positif kepada Perusahaan Otobus (PO) untuk meningkatkan pelayanan serta kenyamanan para penumpangnya. Tidak jarang suara merekalah (Bis Mania) yang didengar perusahaan Otobus. Biasanya, PO-PO ini segera melakukan pembenahan terhadap kerusakan atau kekurangan suatu bus. Tidak terlepas juga masukkan dan kritik untuk semakim memperbaiki pelayanan bagi pengguna jasa bus.

Makanya, jangan heran kalau agenda besar komunitas ini biasanya mengadakan kunjungan ke perusahaan-perusahaan otobus di Indonesia. Baik itu sekedar menambah pengetahuan akan bis ataupun memberikan saran dan kritik kepada PO yang dikunjungi.

Sumber : Pasarinfo.com

Bike To Work

Anda mungkin pernah melihat seorang pengguna sepeda pada pagi ataupun sore hari dengan tas besar, jersey beserta atribut Bike To Work (B2W) lainnya melintas di hadapan Anda. Lalu, tahukah Anda kemana tujuan orang tersebut? Jawabnya, pada pagi hari pastinya orang tersebut hendak berangkat ke kantor untuk bekerja, sedangkan sore hari pastinya hendak pulang ke rumah.

Meski menggunakan sepeda untuk mendukung kegiatan sehari-hari, bukan berarti anggota komunitas ini berasal dari kalangan bawah. Karena banyak para petinggi perusahaan juga menjadi anggota komunitas ini. Tidak jarang dari mereka yang memiliki kendaraan seperti motor dan mobil, bahkan banyak pula yang memiliki mobil mewah. Tetapi, mereka tetap lebih memilih kendaraan yang lebih simpel, hemat, dan independent seperti sepeda, untuk menempuh jarak yang tidak begitu jauh, baik itu menuju kantor atau pun kemana saja.

Ya, komunitas B2W ini mempunyai alasan tersendiri dengan pilihan mereka (bersepeda). Tidak terlalu jauhnya jarak yang ditempuh merupakan alasannya. Buat apa menggunakan kendaraan bermotor hanya sekedar menuju kantor atau sekedar untuk membeli Makanan ataupun rokok dengan jarak satu kilometer. Mengenai kegiatan B2W sendiri, merupakan kegiatan yang tidak tentu. Gathering atau pertemuan-pertemuan diadakan saat ada kerjasama dengan instansi terkait.

“Sayang rasanya, menuju warung membeli sesuatu yang beban bawaannya hanya sekitar 3-5 kg menggunakan motor, apalagi menggunakan mobil. Lebih enak menggunakan sepeda. Beda halnya jika belanja bulanan yang tidak memungkinkan membawanya dengan sepeda. Baru kita gunakan motor, atau mobil,” kata Humas B2W Jakarta Selatan yang tidak mau disebutkan namanya.

Perkumpulan Bike To Work berawal dari sekelompok penggemar kegiatan sepeda gunung yang punya semangat, gagasan dan harapan akan terwujudnya udara bersih di perkotaan. Dari sinilah lahir Komunitas Pekerja Bersepeda (Bike-to-Work Community) yang kemudian menggagas kampanye pertama penggunaan sepeda ke tempat kerja pada 6 Agustus 2004.

“Komunitas ini muncul di kawasan Serpong Tangerang, karena inisiatif dari penggemar sepeda gunung saat bersepeda di akhir pekan mengisi kegiatan dihari libur. Tokoh yang memperakarsai B2W saat itu adalah Bapak Totok Sugito yang saat ini menjabat ketua umum B2W, serta tokoh lain seperti hendro, taufik dan lain-lain,” ujar sang humas.

Sementara Ide awal komunitas B2W ini, dikarenakan waktu itu sepeda sudah mulai kalah pamor dengan motor sebagai alat transportasi, tepatnya sejak taraf ekonomi masyarakat kita sedang baik. Sehingga semua orang mampu membeli kendaraan bermotor, sehingga sepeda boleh dibilang agak ketinggalan zaman, tidak bergengsi lagi.

Padahal, dengan bersepeda kita akan banyak mendapatkan dampak positifnya, baik itu secara langsung atau tidak. Secara langsung kita dapat ikut menjaga alam yang saat ini mulai rusak supaya menjadi tidak tambah rusak. Dampak positif lain dari bersepeda yakni membuat hidup jadi lebih sehat, bisa melakukan penghematan, serta menunjukan kemandirian sebagai orang Indonesia.

Buktinya menggunakan sepeda itu hal yang sangat independent sekali, membuat kita tidak tergantung kepada materi selain sepeda yang kita gunakan. Kalau motor atau mobil kita pasti bergantung pada bahan bakarnya. Jika tidak ada bensin motor atau mobil tidak dapat berjalan, begitupun jika tanpa oli. Sementara sepeda, asal rantai tidak putus, pelek tidak penyok, rangka badan sepeda tidak patah, pasti bisa jalan.

“Hal seperti inilah yang akan kita proyeksikan ke adik-adik kita di Indonesia, khususnya Jakarta agar sepeda dapat menjadi alat transportasi sehari-hari. Kalau sekarang kan mereka ke sekolah saja motor. Dengan Rp 300-400 ribu motor bisa didapat melalui kredit. Pastinya, dengan melihat adik-adik usia SD-SMA, dari rumah bersepeda menuju ke sekolah akan sangat menyenangkan, dan itu harus dipupuk dari awal,” papar Humas B2W.

Keanggotaan dan Visi misi B2W
Awalnya, perkumpulan ini hanya sebagai perkumpulan pekerja bersepeda. Namun, karena peminatnya banyak dari berbagai profesi. Maka B2W bukan lagi komunitas pekerja bersepeda, bahkan yang tidak bekerja saja dapat menjadi anggotanya. Syaratnya hanya satu, memiliki sepeda tanpa peduli itu sepeda apa. “Siapa saja boleh masuk komunitas ini. Pelajar, pekerja kantoran atau siapapun, boleh gabung. Baik sepeda yang dimiliki berjenis sepeda gunung, sepeda mini atau apapun bisa masuk dalam komunitas ini. Asalkan punya sepeda,” tegas Humas B2W.

Sehingga, lambat laun anggotanya semakin bertambah. Untuk saat ini, jumlah yang tercatat dalam website B2W berjumlah lebih-kurang sebanyak 10.000 orang. “Maka dari itu, kata work pada kata B2W tidak usah diartikan sebagai pekerja,” paparnya.

B2W sendiri mempunyai visi memasyarakatkan sepeda sebagai alat transportasi utama selain motor dan mobil di indonesia. Artinya masyarakat Indonesia selain memiliki kendaraan bermotor tetapi juga memiliki sepeda. Dan sepeda itu digunakan sebagai alat transportasi alternatif bila keadaan memungkinkan untuk menggunakannya. Sementara, mewujudkan jalur khusus sepeda di kota-kota besar atau di kota yang memungkinkan untuk dibuat jalur sepeda dijadikan misi dari komunitas yang khas dengan warna kuningnya ini.

Pembuatan jalur sepeda bukanlah hal main-main. Karena kini sudah dalam tahap studi kelayakan dengan melibatkan beberapa pihak yang berwenang di DKI Jakarta, diantaranya Dinas Pertamanan dan Kepolisian. Untuk pertama, jalur yang dipilih dari Blok M sampai Monas via Sudirman.

Gayung pun bersambut, misi B2W untuk membuat jalur khusus sepeda seperti halnya jalur busway yang kini telah berjalan mendapat tanggapan positif dari Pemda Jakarta. Seperti dikatakan Humas B2W Jakarta Selatan persiapannya saat ini berjalan dengan cukup baik, dan terus diolah agar nantinya menjadi suatu fasilitas umum yang benar-benar layak (jalur khusus sepeda). Kita tunggu saja kapan hal ini bisa terealisasi.

Sumber : Pasarinfo.com

Jakarta Morris Club Melestarikan Mobil ala “Mr. Bean”

Satu hal yang mencolok dari tokoh komedi rekaan asal Inggris, Mr. Bean, adalah mungil dan nyentrik yang dikendarainya. Ya, itu adalah mobil sedan hatcbak asli Inggris, Morris. Lebih dari 50 tahun, mobil ini banyak dikendarai orang di berbagai negara. Meski hingga hari ini Morris masih memproduksi jenis baru, namun Morris klasiklah yang banyak dikoleksi dan dijadikan sebagai hobi. Salah satu komunitas pencinta mobil klasik ini adalah Jakarta Morris Club (JMC).

Berdiri semenjak 29 Agustus 1993, Jakarta Morris Club hingga kini telah menginjak usia 15 tahun dan sudah mempunyai banyak anggota. “Misi dari JMC adalah menampung minat dan penggemar Morris, dalam menyalurkan hobi melestarikan dan mempopulerkan mobil ini dalam dunia otomotif tanah air,” ujar Aria Aradea, Ketua Bidang Humas JMC saat ini. Ditambahkan olehnya, JMC juga berperan sebagai wadah kegiatan rekreatif dan sosial, serta sebagai ajang silaturahmi diantara sesama pemilik dan penggemar mobil Morris.

Untuk menjadi anggota Jakarta Morris Club tidaklah sulit. Bahkan, tidak ada keharusan bagi calon anggotanya untuk memiliki mobil Morris. “Tidak harus memiliki, cukup menggemari saja sudah bisa bergabung. Memang, lebih baik kalau sudah memiliki Morris sendiri. Di luar itu, calon anggota cukup mengisi formulir keanggotaan JMC, untuk kemudian dikirimkan melalui fax ke sekertariat JMC maupun via email ke Sekretaris Pengurus JMC,” jelas Aria. Uniknya, di JMC tidak ada pungutan iuran, baik itu iuran keanggotaan maupun iuran lainnya. Biaya-biaya untuk penyelenggaraan JMC diperoleh melalu donasi dari para anggotanya dengan cara berpatungan, atau melalui donasi/sumbangan dari lembaga atau organisasi yang ingin memanfaatkan atau memakai jasa JMC, misalnya untuk syuting film. Donasi dan pengumpulan biaya ini biasanya akan dilakukan ketika JMC akan menyelenggarakan suatu acara atau kegiatan, baik kegiatan rutin maupun kegiatan sosial.

Sebagai sebuah organisasi, JMC mempunyai struktur kepengurusan semenjak pertama kali berdiri pada tahun 1993. Biasanya, masa kepengurusan berlangsung selama 3 tahun. Untuk saat ini, pengurus yang menjabat masuk dalam periode kepengurusan JMC periode tahun 2007-2010. “Kami juga memiliki koordinator wilayah, yang terbagi menjadi beberapa bagian. Yakni, Koordinator Jakarta Selatan-Depok-Bogor, Koordinator Jakarta Timur-Bekasi, Koordinator Jakarta Barat-Tanggerang, dan Koordinator Jakarta Pusat-Jakarta Utara. Jadi sebenarnya tidak hanya di Jakarta saja, tetapi juga hingga kota-kota di sekitar Jakarta juga bergabung dalam JMC,” jelas Aria. Untuk menunjang semua kegiatan JMC, mereka memiliki skertariat yang terletak di Jl. Melodi Mas I, Blok A8, No.1, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Kegiatan JMC.
Selain acara kumpul rutin di bilangan Plaza Senayan pada hari Minggu pagi, JMC juga memiliki banyak agenda dan kegiatan yang bersifat touring dan sosial yang sudah mereka laksanakan. Misalnya saja, pada hari Minggu 5 April 2009 kemarin, mereka baru saja melaksanakan touring dan konvoi bareng JMC dengan tujuan kawasan Puncak – Jawa Barat. Sebelumnya, pada bulan Februari 2009 mereka melaksanakan 3 kegiatan sekaligus. Pada 1 Februari 2009, JMC melakukan touring ke kawasan Puncak dan kota Bandung, sekaligus bersilaturahmi ke pengurus Bandung Morris Owner Club (BMOC).

Pada tanggal 14-15 Februari 2009, mereka melakukan konvoi dan bersilaturahmi dengan para pemilik dan penggemar Morris di kawasan Lembang dan Sumedang. Pada tanggal 22 Februari, JMC bekerjasama dengan salah satu produsen celana jins, Lee Cooper, serta Mall Margo City – Depok, menyelenggarakan bakti sosial dan donor darah. “Acara bakti sosial dan donor darah ini merupakan salah satu agenda kegiatan sosial yang rutin dilaksanakan setiap 3 bulanan oleh JMC,” jelas Aria. Acara bakti sosial yang dilakukan JMC memang lebih banyak dilakukan di luar kota dan di daerah-daerah. Misalnya, JMC pernah mengadakan bakti sosial di salah satu panti asuhan di kota Garut – Jawa Barat.

Dominasi Mini
Dari sekian banyak jenis mobil Morris, jenis Morris Mini adalah yang paling banyak dimiliki oleh para anggota JMC. “Yang paling banyak ya jenis Mini dengan berbagai tipe. Ada Mini Cooper, Mini Van, Mini Clubman, Mini Moke/Jeep, dan lainnya. Morris Mini yang dimiliki anggota JMC, biasanya keluaran produksi tahun 1959 – 2001,” jelas Arya. Di luar Mini, Morris sebenarnya banyak memiliki jenis type yang sudah diproduksi. Tentunya, hampir kesemuanya kini telah menjadi mobil-mobil klasik dan antik. Ada type Morris Minor, Morris MG, Morris Cowley, Morris Marina, Morris 1000 Traveller, Morris Ten Series M, dan banyak lagi lainnya. Maklum saja, pabrikan mobil asal Inggris ini sudah berdiri semenjak tahun 1910. Tidak heran kalau Morris kemudian menjadi salah satu mobil collector item, bagi para pencinta mobil klasik di seluruh dunia.

Berbagi Pengalaman dan Informasi
Kesulitan yang biasanya ditemui di kalangan pengemar mobil klasik adalah masalah perawatan, perbaikan, serta pencarian dan pengadaan suku cadang mobil yang orisinil. “Di JMC banyak sekali orang yang bertukar pengalaman mengenai perwatan atau perbaikkan, bahkan “membangun” Morris yang mereka punya. Kita juga berbagi mengenai info bengkel-bengkel Morris, serta toko-toko yang menyediakan suku cadang Morris,” ungkap Aria. Dalam website-nya www.jmc.or.id, JMC juga menyediakan berbagai informasi, tips, dan berbagai artikel seputar Morris. Mereka juga menjalin komunikasi dengan sejumlah bengkel dan toko khusus Morris, yang akses alamat dan informasinya dapat ditemui dalam website resmi mereka.

Sumber : Pasarinfo.com

Komunitas Parkour Indonesia Persaudaraan Diantara Tingginya Tiang dan Tembok Pembatas

Mendengar kata Parkour, kita mungkin akan sedikit mengerutkan dahi, dan bertanya apakah ini? Apalagi jika dikatakan ini adalah suatu jenis olahraga. Bagi orang awam, mungkin inilah yang akan terjadi. Namun tidak demikian dengan mereka-mereka yang pernah menonton film Yamakazi (2004) atau District 13 (2004). Dari film inilah, olahraga yang dipopulerkan oleh David Belle di Perancis inilah bisa dikatakan dikenal oleh banyak orang dan berkembang di berbagai negara. Parkour adalah suatu olahraga seni menggerakan tubuh untuk melewati suatu rintangan dengan efektif dan efisien. “Berbeda dengan olahraga bela diri, Parkour adalah suatu cara mempertahankan diri dengan cara menghindari terjadinya benturan fisik dengan orang yang berniat jahat kepada kita. Meski demikian, Parkour juga mengajarkan dan melatih kekuatan dan kelenturan otot dan bagian-bagian anggota tubuh, seperti tangan dan kaki,” ujar Bowo, salah satu anggota komunitas ini.

Di Indonesia sendiri, Parkour sudah ada yang menggemari semenjak beredarnya film tersebut. Namun, secara resmi wadah para penghobi olahraga yang satu ini mulai terbentuk pada tahun 2007 lalu. “Komunitas Parkour Indonesia resmi berdiri pada 15 Juli 2007, setelah sebelumnya hanya berupa wadah komunikasi dunia maya. Wadah ini dibentuk sebagai pemersatu pecinta olahraga Parkour yang tersebar di tanah air,” ujar Arie Arbiyantoro, salah satu Traceur, sebutan bagi pelaku Parkour laki-laki, yang juga berasal dari Komunitas Parkour Jakarta. Dari komunitas inilah terbentuk komunitas-komunitas Parkour di kota-kota besar di Indonesia, yang disesuaikan dengan kawasan dimana komunitas ini berkumpul untuk berlatih. Misalnya, ada komunitas Parkour Depok, Bekasi, Semarang, Bandung, Yogyakarta, Medan, Palembang, Makassar, dan beberapa kota besar lainnya.

Persaudaraan Tanpa Kompetisi

Secara umum, baik di Indonesia maupun di dunia, tidak ada istilah kompetisi dalam olahraga yang satu ini. Tidak ada unsur mengejar prestasi untuk dibanggakan atau gagah-gagahan. “Tidak ada kompetisi. Yang ada hanya berprestasi untuk mengembangkan diri dan berguna untuk orang lain. Disiplin, mampu menahan emosi, bangkit dari kegagalan, dan melawan rasa takut, adalah suatu hal yang lebih berharga bagi olahraga ini, dibandingkan memenangkan suatu kompetisi,” ujar Arie. Meski demikian ujarnya, Parkour tetap bisa dijadikan sebagai sebuah ajang olahraga, meski tanpa kompetisi, karena semua aktivitasnya menggerakan seluruh anggota tubuh dan mengeluarkan keringat, sehingga menyehatkan bagi mereka yang melakukannya.

Filosofi persaudaraan dalam Parkour bisa dilihat dari pentingnya arti hubungan persahabatan diantara sesama pelakunya. Tidak ada batasan-batasan tertentu untuk bergabung dengan komunitas olahraga ini. “Siapapun bisa bergabung dengan kami. Tanpa ada persyaratan atau ketentuan-ketentuan. Silahkan datang pada saat kami sedang mengelar latihan rutin, tanpa dipungut biaya sepeser pun,” ujar Hafidh, salah satu anggota Komunitas Parkour Indonesia.

Salah satu bentuk nyata dari filosofi persaudaraan adalah adanya istilah Jamming Season, atau latihan bersama yang kerap digelar dan diikuti oleh dua atau lebih komunitas Parkour dari kota yang berbeda. Misalnya, untuk latihan Parkour Jakarta, biasanya juga diikuti oleh komunitas dari Tanggerang, Bekasi, dan Depok. Pun demikian dengan beberapa komunitas lainnya yang sudah pernah melaksanakan latihan bersama, seperti komunitas Jogja dan Solo yang diadakan di Stadion Manahan, Solo. Ada juga latihan bareng komunitas Parkour se-Kalimantan Timur yang digelar beberapa waktu yang lalu.

Masa Depan Parkour Indonesia

Satu hal yang sering menjadi pertanyaan, apakah komunitas olahraga ini bisa eksis dan diakui secara nasional di negeri ini? Jika ditanyakan kepada seluruh anggota komunitas ini, dengan sigap mereka menjawab pasti bisa. Berbagai macam cara telah ditempuh untuk memperkenalkan dan mempopulerkan olahraga yang satu ini. “Untuk latihan rutin, Parkour Indonesia sering berlatih di kawasan Senayan, di dekat kolam renang, pada hari Minggu mulai jam 08:00 WIB. Dulu memang sempat berpindah tempat dari Senayan, ke lokasi sekitar GOR Soemantri Brodjonegoro dan Pasar Festival Kuningan, namun akhirnya balik lagi ke kawasan Senayan,” ujar Arie. Selain itu, berbagai even latihan bareng pun seringkali coba digelar, untuk semakin mempopulerkan olahraga ini.

Komunitas ini juga pernah tampil dalam berbagai acara-acara resmi, seperti acara yang berkaitan dengan even atau seminar atau pertemuan mengenai olahraga. Mereka juga beberapa kali tampil di televisi, menghadiri undangan berbagai acara perkenalan dan sebagainya. Bahkan, salah satu pegiat awal olahraga ini, Voland Humonggio, adalah seorang pemain film layar lebar Sang Dewi. Voland dan teman-temannya juga yang memperkenalkan Parkour melalui berbagai kegiatan yang mereka selenggarakan atau ikuti.

Untuk semakin mengkokohkan eksistensi Parkour di Indonesia dan diakui sebagai cabang olahraga, pengurus komunitas ini sudah mengirimkan surat perkenalan kepada Menteri Pemuda dan Olahraga, sehingga nantinya olahraga ini bisa diakui di Indonesia. Suatu seni olahraga dan pertahanan diri yang menyatukan unsur kekuatan, efektifitas, dan kreasi imajinasi.

Sumber : Pasarinfo.com